Jumat, 08 Mei 2015

Pria Unikku

Pria Unikku
Pria unikku
Dulu aku tidak pernah berpikir akan memiliki seseorang seperti dirimu
Karena jika melihat masa lalu ku, mungkin kau tidak masuk dalam kriteriaku
Kriteria yang menurut teman-temanku sangat sempurna dan tidak ada orang yang seperti itu

Pria unikku
Kau memang tidak seperti "sosok" pria yang ada dalam kriteriaku
Kau memang tidak sesempurna seperti angan-anganku
Tetapi, kau begitu unik untukku
Dan keunikkanmu yang membuat aku jatuh cinta kepadamu
Keunikanmu membuat aku melupakan "sosok" sempurna itu
Hai pria unikku
Kehadiranmu mengisi hidupku
Kehadiranmu membuat hidupku menjadi penuh warna
Kehadiranmu membuat aku merasakan indahnya hidup ini

Pria unikku
Kau begitu berarti bagi hidupku
Kau membuat aku terbuai oleh cintamu
Kau membuat aku merasakan dan mengerti artinya mencintai dan dicintai

Terima kasih pria unikku
untuk cintamu yang tulus untukku
Terima kasih pria unikku
AKU MENCINTAIMU

UN pertamaku

Senin, 4 Mei 2015 - Kamis, 7 Mei 2015 adalah tanggal dimana aku pertama kali mengawas Ujian Nasional untuk tingkat SMP. Ya, ini adalah pertama kalinya. Aku merasa deg-degan, takut, dan excited untuk mengawas UN. Aku berdoa supaya mendapatkan tempat mengawas yang dekat dengan sekolah dimana aku mengajar, namun kenyataannya aku harus mengawas di sekolah yang sama sekali tidak pernah dengar namanya dan tidak pernah tahu dimana lokasinya.

Eng... Ing... Eng.... inilah saatnya mengawas. Hari ini Senin, 4 Mei 2015 aku mulai mengawas di sekolah yang berada di antah berantah tersebut dan hari pertama ini aku sampe di antar oleh papaku( hehehehe... ^^). Setibanya di sekolah tersebut aku pun disambut dengan siswa-siswi yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti UN pada hari pertama ini. Sama halnya dengan guru-guru dari sekolah tersebut yang dengan ramah menyambut kami para guru pengawas. Kegiatan pertama kami adalah mendapatkan pengarahan dari kepala sekolah SMP tersebut. Kepala sekolah tu mengingatkan supaya kami dapat mengawas dengan baik dan tidak menggunakan telepon seluler saat mengawas. Selesai pengarahan tersebut, kami pun langsung masuk ke dalam ruang ujian kami masing-masing. Aku pun mengawas bersama seorang bapak dari sekolah Muhammadiyah (bingung cara tulisnya deh @_@). hari ini aku mengawas di ruang 26. Ruang kelas ini terlihat seperti ruangan tua. namun, ruang kelas ini masih terlihat seperti ruang kelas biasa, ada kursi dan meja untuk siswa, ada meja dan kursi untuk guru, dan 2 kipas angin tua yang penuh debu (Omaigot... aku kan alergi debu... panik seketika... tp untung alergiku tidak kumat saat mengawas). di dalam ruang ini seharusnya terdapat 20 orang siswa yang akan mengikuti UN (Btw, hari pertama ini UNnya adalah Bahasa Indonesia) tetapi yang hadir cuma 19 orang. Aku cukup sedih sih melihat ada 1 bangku kosong (kok jadi horor ya??? 😨😨), aku pun bertanya dalam hati kemana anak ini? Kenapa dia tidak datang untuk mengikuti UN? Pertanyaan-pertanyaanku akhirnya terjawab saat seorang panitia penyelenggara mendatangi ruanganku. Ibu ini berkata bahwa anak itu sudah keluar dari sekolah dan sudah tidak mengikuti Ujian Sekolah juga. Saat mendengarnya hatiku jadi merasa miris, kasihan, dan sedikit kesal. Ya, kesal karena ibu itu juga berkata bahwa aku dan partner ngawasku harua memaklumi anak-anak ini karena anak-anak ini adalah anak-anak jalanan dan anak-anak orang yang tidak mampu. Memangnya anak-anak jalanan seperti mereka ini harus mendapatkan pembedaan dari siswa-siswa lain yang ada di sekolah ini? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang lainnya? Apakah karena mereka termasuk orang yang tidak mampu??? Aahh...sudahlah... aku di sini bukan untuk membahas masalah itu... aku di sini hanya bertugas untuk mengawasi anak-anak ini ujian.

Ujian Nasional Bahasa Indonesia pun dimulai... Mereka terlihat sangat serius membaca setiap soal yang ada di hadapan mereka. Aku pun satu persatu memeriksa data diri setiap siswa itu. Saat aku sedang memeriksa data diri seorang siswa, tiba-tiba anak tersebut berkata "terima kasih, Kak." Dan aku pun terkejut mendengar perkataan anak itu. Tidak hanya itu saja, ada siswa lain yang memanggilku dengan sebutan "mba". Aku pun berpikir apakah wajahku seperti mba2? Apakah wajahku tidak tersirat wajah seorang guru sampai-sampai aku dipanggil "mba dan kakak"?
Hahahahaha... itu tandanya aku masih muda ^_<

Dan akhirnya tugas mengawas hari ini pun selesai dengan baik dan aku pun kembali ke sekolah tempatku mengajar untuk melanjutkan kegiatanku selanjutnya.
Inilah pengalaman yang aku saat aku harus mengawas UN tingkat SMP untuk yang pertama. Pengalam yang sangat berharga untukku, pengalaman dimana aku harus berani melakukan sesuatu di luar zona nyaman kita. Pengalaman yang mengajarkanku untuk menghargai setiap siswa yang kita temui apapun statusnya, bagaimana pun keadaannya. Apa pengalaman pertamamu saat kamu harus mengawas di sekolah yang sama sekali tidak kamu ketahui keberadaannya??